![]() |
| Festival Perdana Kecamatan Buleleng Usung Semangat Akulturasi Seni sebagai Pilar Kemajuan Daerah |
Dalam kesempatan tersebut, Camat Buleleng Putu Gopi Suparnaca menjelaskan bahwa nama “Singa Kren” terinspirasi dari program yang diinisiasi Bupati dan Wakil Bupati Buleleng. Kata “Singa” merujuk pada Singaraja, sedangkan “Kren” merupakan singkatan dari Kreativitas Seni.
“Maknanya adalah potensi kreativitas seni yang unggul. Karena itu kami memilih nama Kren untuk festival perdana ini. Ada latar belakang historis sehingga nama tersebut penting untuk diangkat,” jelas Putu Gopi Suparnaca.
Ia menyebutkan, festival ini menjadi implementasi nyata dari semangat jargon “Singaraja Kren, Buleleng Paten”. Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi berbagai unsur seni dan budaya yang telah berkembang lama di Buleleng, mulai dari seni tari tradisional Bali, budaya Tionghoa, Muslim, pengaruh Buddha, hingga seni musik modern serta kreativitas pelaku UMKM.
Tema Purwaning Sastrotsawa Pragati juga disebut memiliki filosofi mendalam karena merepresentasikan nilai budaya dan tradisi yang terus dijaga serta diwariskan hingga saat ini.
“Terdapat nilai budaya, tradisi yang tetap lestari, serta makna filsafat dari kreativitas seni itu sendiri. Semua itu menjadi fondasi awal bagi kemajuan Kabupaten Buleleng,” paparnya.
Beragam kegiatan disiapkan untuk memeriahkan festival tersebut, di antaranya pertunjukan seni tari dan budaya khas Kecamatan Buleleng, musik modern, pameran pelayanan publik, bazar UMKM dan kuliner tradisional, Fun Run, Zumba Party, lomba karaoke, hingga fashion show.
Salah satu penampilan utama yang menjadi sorotan adalah garapan kolosal yang melibatkan ratusan seniman. Ketua Sanggar Santhi Budaya, I Gusti Ngurah Eka Prasetya, mengatakan pihaknya melibatkan 87 penari dan 26 penabuh gamelan gong kebyar khas Buleleng.
Menurut seniman yang akrab disapa Gus Eka tersebut, keunikan pertunjukan terletak pada upaya memadukan berbagai karakter budaya dan etnis dengan iringan musik gong kebyar.
“Biasanya pertunjukan yang mengangkat beberapa etnis memakai karakter musik yang berbeda. Namun kali ini kami mencoba mengolah gong kebyar untuk mengiringi berbagai etnis dengan perpaduan melodi pentatonis dan diatonis,” ujarnya.
Ia menambahkan, pertunjukan kolosal itu melibatkan lebih dari 550 orang, mulai dari penari anak-anak hingga dewasa. Meski konsep akulturasi budaya bukan hal baru, pengemasan pada festival perdana ini dibuat lebih spesial, termasuk dalam prosesi penyambutan tamu VIP dengan rute yang telah disesuaikan.
Melalui festival ini, pihaknya berharap Singa Kren Festival dapat menjadi momentum untuk menjaga sekaligus mengembangkan seni budaya akulturatif khas Buleleng, sekaligus mendorong kemajuan daerah melalui kreativitas masyarakat.









Social Plugin