Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu, Momentum Menumbuhkan Kasih Sayang dan Kesadaran Diri

 

Penyuluh Agama Hindu Buleleng Ingatkan Pentingnya Empati dan Kepedulian di
Tengah Ancaman Bullying dan Krisis Mental Generasi Muda

SINGARAJA, IKLIKBALI – Pertemuan Hari Suci Tumpek Krulut dengan Purnama Kepitu disebut sebagai momentum spiritual yang sarat makna bagi umat Hindu. Perjumpaan dua hari suci tersebut dimaknai sebagai penyatuan kasih sayang dan cahaya kesadaran dalam kehidupan manusia.

Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Buleleng, Luh Irma Susanthi, menjelaskan dalam Lontar Sundarigama, Tumpek Krulut dimaknai sebagai hari penyucian rasa, saat manusia diajak melembutkan batin dan merawat keindahan jiwa. Hari suci tersebut dipersembahkan kepada Bhatara Iswara sebagai manifestasi Tuhan penjaga kesucian, seni, dan keharmonisan.

“Ketika Tumpek Krulut jatuh bertepatan dengan Purnama Kepitu, maknanya menjadi berlapis. Purnama adalah fase bulan paling terang, sebuah simbol puncak kejernihan pikiran dan keterbukaan hati. Kepitu sendiri secara spiritual sering dikaitkan dengan proses penyembuhan dan pemurnian emosi,” ujarnya.

Menurut Irma, momentum tersebut juga menjadi pengingat bagi manusia untuk memahami konsep Sapta Timira, yakni tujuh kegelapan dalam diri manusia yang harus dikendalikan dengan spirit dan kecerdasan batin.

Ia menilai makna Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu menjadi sangat relevan di tengah kondisi sosial saat ini, terutama meningkatnya kasus bullying, depresi, hingga bunuh diri di kalangan generasi muda.

“Banyak anak muda terlihat kuat di layar, namun rapuh di balik senyum digitalnya. Mereka sering merasa tidak cukup baik, tidak didengar, dan tidak dimengerti. Dalam konteks inilah pesan Tumpek Krulut menemukan urgensinya. Kasih sayang dalam Hindu bukan emosi sesaat, tetapi laku hidup,” jelasnya.

Irma menambahkan, bullying tumbuh dari ego dan kebencian, sementara keputusasaan hidup sering lahir dari perasaan tidak dicintai dan kehilangan ruang aman untuk bercerita. Karena itu, menurutnya, jawaban spiritual bukan sekadar meminta seseorang untuk “kuat”, tetapi menghadirkan empati dan kepedulian nyata di lingkungan sekitar.

“Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, mendengar tanpa menghakimi, menciptakan ruang aman di keluarga dan sekolah, serta mengakui bahwa kesehatan mental adalah bagian dari dharma menjaga kehidupan,” imbuhnya.

Ia juga mengingatkan pesan dalam Lontar Sundarigama bahwa ritual keagamaan tanpa penghayatan hanya akan menjadi rutinitas kosong. Kesadaran batin dan kasih sayang disebut sebagai inti utama dalam menjalani kehidupan spiritual.

Menurutnya, ketika manusia mampu menghadirkan kasih sayang dan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari, maka kemarahan akan kehilangan tempatnya, kebencian melemah, dan empati akan tumbuh lebih kuat di tengah masyarakat.

“Nilai kasih sayang dan cahaya kesadaran adalah yang termulia. Bhagavadgita dan kajian Lontar Sundarigama menegaskan bahwa cahaya kesadaran adalah kunci pembebasan dari kegelapan batin,” tutup Irma Susanthi.

Posting Komentar

0 Komentar